[Ahmad Hambali Site]

Begitu mereka ada, dunia menjadi tidak sederhana. Setiap kenikmatan menjadi hambar tanpa keikutsertaan mereka. Bagiku, kenikmatan dunia hanya ada, jika mereka juga menikmatinya. Inilah dunia kami, Dunia, dimana tangis, tawa dan bahagia berjalan beriringan

Sanggahan CIA Mengenai Buku The Legacy of Ashes March 5, 2009

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 8:40 am
Tags: , ,

Senang atau tidak, CIA bukan hanya menjadi lembaga intelijen yang amat represif (karena menjalankan kebijakan luar negeri Amerika yang cenderung intervensionis) tapi juga menjadi lembaga yang cukup patuh dengan kebijakan penerapan keterbukaan informasi seperti yang diatur dalam Freedom of Information Act.

Karena beberapa hal tersebut, dalam banyak hal, pemerintah Amerika termasuk  CIA menjalankan amanah untuk mendeklasifikasi dokumen-dokumen rahasia mereka kepada publik. Tidak hanya itu, mereka juga merespon berbagai pertanyaan dan tuduhan dari berbagai pihak tentang kerja-kerja intelijen.

Masih segar dalam ingatan kita ketika kehebohan muncul bersamaan dengan diterjemahkannya karya Tim Weiner “The Legacy of Ashes: History of CIA,” diterjemahkan kedalam Indonesia. Pangkal persoalannya tentu saja menyangkut pernyataan yang menyebut mantan Wakil Presiden Adam Malik sebagai personal di level tertinggi yang direkrut oleh CIA.

Bantahan dan sanggahan seketika bermunculan, baik dari tokoh, kolega, pemerintah, keluarga, sahabat Adam Malik hingga penulisnya sendiri. Intinya adalah dua hal bisa ya bisa tidak. Sangat tidak mungkin seorang Adam Malik menjadi kaki tangan Amerika apalagi dengan iming-iming yang tidak seberapa, begitu sergah penolak temuan Weiner tentang Malik. Sedangkan yang lain menyebut bisa saja, Malik memang bekerjasama dengan CIA karena konteks politik pada waktu itu.

Seperti juga isu-isu yang bertaburan, kini kontroversi itu terhenti dengan sendirinya. Mungkin lelah, atau tidak menguntungkan. Tapi bagi peneliti, pencari fakta dan sejarawan, isu ini tetap penting untuk diklarifikasi. Karena menyangkut dengan kebenaran sejarah itu sendiri yang faktanya hingga kini, setiap jengkal sejarah Indonesia sering terbagi dalam berbagai versi mulai dari Serangan Umum 1 Maret 1949 hingga naskah Supersemar.

Dengan bermaksud membandingkan berbagai pernyataan dari pihak-pihak yang terlibat, untuk kasus Adam Malik dan Buku The Legacy, Last but not least sesungguhnya, CIA sendiri telah melakukan sanggahan terhadap tulisan Weiner. Namun yang amat disayangkan, pernyataan CIA itu lagi-lagi tidak memberikan jawaban yang pasti tentang ‘nasib’ Adam Malik. Dalam respon tertanggal 6 Agustus 2007 itu, CIA hanya menjawab tentang  presiden Truman dan gagasan operasi rahasia CIA, latar belakang pendirian NSA, sumber Weiner tentang peristiwa Hungaria Uprising hubungannya dengan Radio Free Europe dan lain sebagainya yang jelas tidak menyentuh persoalan Adam Malik.

Dilihat dari kebiasaan, tidak terdapatnya sanggahan CIA pada kasus Adam Malik bisa jadi disebabkan karena setidaknya empat hal:

  1. Kealpaan,
  2. Tidak menganggap penting,
  3. Tidak ingin menambah keruh atau
  4. Bisa jadi sebuah pembenaran.

Dilihat dari kredibelitas dan profesionalitas poin nomor satu bisa jadi tidak terjadi. Sedangkan poin nomor dua, akan jadi terasa aneh bila suatu ‘tuduhan’ keterlibatan Amerika yang melibatkan orang besar seperti Adam Malik tidak disebut sebagai suatu yang penting. Dasar argumen ini hampir persis bisa ditunjukan untuk menjawab poin yang ketiga. Bukankah, dengan tidak disebutnya, persoalan Adam Malik dalam sanggahan CIA akan memperkeruh hubungan, atau terdapat cara dan maksud lain?

Jika semua poin sudah bisa diterangkan, maka ini jelas akan menguatkan dugaan dan temuan Weiner bahwa, Adam Malik memang memiliki hubungan dengan CIA. Benarkah demikian, sejarah pasti akan menjelaskannya.

Jawaban CIA tentang buku Weiner dalam CIA Statement on “Legacy of Ashes”

CIA Statement on “Legacy of Ashes”
August 6, 2007

The CIA is no stranger to criticism. Intelligence work, focused as it is on the uncertain, the unknown, and the deliberately hidden, comes with great difficulty and risk. There will be shortcomings and unpleasant surprises. That said, Tim Weiner’s recently published book, Legacy of Ashes, paints far too dark a picture of the agency’s past. Backed by selective citations, sweeping assertions, and a fascination with the negative, Weiner overlooks, minimizes, or distorts agency achievements.

In 1948, the CIA accurately assessed the chances of war with the Soviets as nil. According to Weiner, that was a failure “because no one listened.” The development of the U-2 spyplane was a stunning technological achievement that offered a unique look behind the Iron Curtain. To Weiner, it is tied to failure, because the CIA should have had better human sources inside the Soviet Union. Through analytic rigor, the agency made a near-perfect forecast of the 1967 Mideast War. Weiner attributes it wholly to information from a foreign intelligence service. The CIA offered accurate and timely warning of Saddam Hussein’s 1990 invasion of Kuwait, a fact Weiner obscures in his narrative.

Those are but a few examples. The story of Pyotr Popov, the CIA’s first major Soviet spy, gets very short shrift. Weiner rightly speaks of the Soviet sources killed by the treachery of Aldrich Ames, yet never mentions the skill it took to recruit those sources or the intelligence they provided the United States. Time and again, Weiner takes things to the darkest corner of the room. He knows better. In promoting his book, he says the design and deployment of intelligence satellites and the study of imagery from them “helped keep the Cold War cold.” That in itself was no minor achievement.

Despite its claims to be “the” history of the CIA, the book is marked by errors great and small. Here is a relatively brief, and admittedly incomplete, catalogue:

*

The book’s first few paragraphs mistakenly assert that President Harry Truman never wanted the CIA to engage in covert action. But he signed National Security Council (NSC) directives assigning responsibility for covert action to the CIA—at a time when CIA officials were skeptical about taking on this mission. Weiner himself notes in the book that Truman’s NSC approved 81 covert CIA actions.

*

The book points out that covert actions are undertaken at the behest of the President to achieve specific ends at specific times. To Weiner, those objectives are illegitimate, to be viewed solely through the prism of events decades later, as though you can draw a simple, straight, decisive line of causation through years of complicated history.
*

The book states that a 1952 operation in Manchuria undertaken by two CIA officers, Dick Fecteau and Jack Downey, was a personnel rescue mission. In fact, the purpose of the operation was to recover documents.
*

The book charges that Frank Wisner, a pioneer of the agency’s covert operations, successfully resisted Director of Central Intelligence Walter Bedell Smith’s order to cancel ineffective ones. But a major Asian program was shut down in 1953—on Wisner’s watch as the head of CIA’s covert operations.
*

The book states that the National Security Agency (NSA) was created in response to an interception and decryption program that was compromised in 1949. In fact, the NSA was established in 1952 to correct serious problems with military signals intelligence during the Korean War.
*

The book alleges that the CIA used Radio Free Europe to spark the 1956 Hungarian uprising. But Weiner’s main source for this idea is a Radio Free Europe memo that was written after the uprising.
*

The book suggests that the CIA didn’t predict the collapse of the Soviet Union. As a number of prominent outside observers have noted, the agency had warned of trouble signs in the Soviet Union on regular occasions since the 1970s.
*

The book states that current CIA Director Michael Hayden is the first active duty military officer to lead the agency since Walter Bedell Smith in the 1950s. But Stansfield Turner was an active duty admiral in the U.S. Navy during the first two years of his tenure as Director of Central Intelligence.

Even Weiner’s telling of his juiciest tale, involving the American ambassador to Guatemala, is gravely flawed. There is much less to this than Weiner suggests—for starters, the supposed intelligence on which it is based did not even come from the CIA or a CIA source. As is so often the case, there is more than one side to the story. But you would not know that from Weiner’s book.

What of the CIA today? This is the agency that did much to oust the Taliban from Afghanistan after 9/11 and collapse the Al-Qa’ida safe haven there. This is the agency that unraveled the A.Q. Khan proliferation network and learned enough about Libya’s nuclear program to persuade Tripoli to step back from it. And the agency that has helped foil terrorist plots and erode the structure and leadership of a terrorist movement that is extremely dangerous and highly adaptable. Weiner’s verdict: These skilled and dedicated officers are “the weakest cadre of spies and analysts in the history of the CIA.”

The agency makes no claims to perfection—far from it. We strive each day to learn from our successes and failures. Not even Weiner can claim that the CIA shrinks from its past. The huge volume of material we have declassified, rare for an intelligence service, underscores the point. With a strong range of sources, Tim Weiner had an opportunity to write a balanced history of a complex, important subject. But he did not. His bias overwhelms his scholarship. One cannot learn the true story of the CIA from Legacy of Ashes.

Advertisements
 

CIA, Adam Malik dan Urgensitas Pengungkapan Kebenaran November 25, 2008

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 8:42 am
Tags: , , ,

Tidak ada seorangpun yang berharap, bila tokoh nasionalnya kemudian dicatat orang lain sebagai bagian dari orang yang bermasalah dengan semangat nasionalisme bangsanya apalagi dituduh terlibat sebagai agen intelijen asing. Isu ini kini mengemuka, ketika buku versi Indonesia Tim Weiner tentang Sejarah CIA semakin banyak dibaca orang. Dalam sebuah catatannya tentang peristiwa menjelang kudeta Soekarno, Clyde Mc Evoy mengaku kepada Weiner telah merekrut dan mengendalikan Adam Malik yang waktu itu masih duduk dikabinet Soekarno, sebagai agen CIA yang akan membantu Amerika dalam mensukseskan creeping coup.
Sebenarnya, menurut buku tersebut, Mc Evoy tidak hanya merekrut Adam Malik, dengan bantuan Marshall Green, Dubes AS waktu itu, Kepala Stasiun CIA ini juga mendekati dua tokoh lain yang juga disebut bersedia bekerjasama bersama Malik untuk membantu CIA.
Saya jelas, tidak bergembira dengan berita ini, namun sebagai seorang peneliti saya berharap menemukan data lain sebagai pembanding kelemahan atau kelebihan data ini.
Penemuan saya terhadap buku Weiner merupakan konsekuensi akademik dari apa yang telah saya lakukan tiga tahun belakangan ini. Hampir separuh riset awal saya tentang keterlibatan CIA pada kudeta Soekarno selalu menyebut Legacy of Ashes sebagai salah satu rujukan penting. saya melihat Weiner, tentu saja melalui karyanya, termasuk orang yang tekun. Ketekunannya saya kira bukan suatu yang menurut para peneliti dibidang ini (national security) membosankan. Saya yakin waktu 20 tahun bagi Weiner untuk sabar bergelut dengan puluhan ribu dokumen declassified pemerintah Amerika menjadi tantangan tersendiri. Dengan kegigihannya dan fasilitas FOIA (regulasi kebebasan informasi amerika) yang disediakan pemerintah, Weiner berhasil merekam 60 tahun perjalanan sejarah CIA sejak Truman hingga Bush.
Buku yang merekam sejarah hubungan Amerika-Indonesia, jelas bukanlah yang pertama, Paul F Gardner, juga pernah menulis 50 tahun hubungan Amerika-Indonesia. Walaupun tidak selugas Weiner, buku Gardner ini juga merupakan rujukan utama para peneliti kebijakan luar negeri Amerika terhadap Indonesia. Selain Gardner dan Weiner, terdapat juga riset yang mengkhususkan keterlibatan operasi CIA diseluruh dunia seperti yang ditulis dalam Killing Hope-nya William Blum atau Portrait Cold Warriornya James Bulkholder Smith yang juga mantan petinggi CIA di Indonesia dan peneliti intelijen Kenneth Conboy dalam bukunya yang menyitir pernyataan mantan Direktur Perencanaan CIA, Frank Weisner “Feet To The Fire.” Dari kalangan akademisi yang juga rajin mengamati Indonesia dari isu ini tentunya adalah suami istri Kahin, George dan Audrey, Edward Herman dan dosen MIT, Noam Chomsky.
Saya cukup tertarik dengan perangai Amerika yang mempersilahkan masyarakat untuk bisa mengakses berbagai dokumen resmi mereka mengenai keterlibatannya dalam kebijakan perang diluar negerinya. Namun begitu, kebebasan informasi Amerika terutama yang berkaitan dengan isu sensitif terutama tentang Indonesia, tetap menjadi misteri. Black Block yang terdapat dalam dokumen-dokumen declassified pemerintah Amerika merupakan cermin bahwa disclusore dokumen pemerintah Amerika tetap mengacu kepada konteks situasional national security Amerika.

Ditengah perdebatan tersebut sesungguhnya perlu bagi kita untuk melihat konteks peristiwa yang terjadi sebelumnya yang antara lain terlihat pada:

Pertama, Perang Dingin.
Berkaitan dengan konteks sejarah yang dikutip Weiner pada saat itu, semua bisa menjadi mungkin karena dunia dibelah menjadi dua kutub dalam perang dingin, free world dan komunis.
Diawali oleh long telegram, charge de affair AS di Uni Sovyet, George Kennan yang memberi masukan tentang kebijakan luar negeri Uni Sovyet, Amerika kemudian melancarkan European Recovery Program (Marshall Plan) hingga Containment Policy. Program-program tersebut kemudian diikuti oleh operasi rahasia roll back untuk melawan kecurigaan ekpansi sovyet diseluruh dunia. Perang ini pada akhirnya memaksa Amerika untuk mengkonsolidasi sekutu penting eropanya untuk memperkuat basis perlawanan Amerika terhadap Sovyet di benua eropa.
Dengan strategi tersebut, maka Belanda menjadi salah satu kawan yang paling dekat yang sangat diuntungkan oleh kebijakan Amerika dalam membendung komunisme di eropa. Kebijakan ini jelas mempersulit upaya Indonesia dalam melepaskan penjajahan Belanda karena back up yang diberikan Amerika secara politik dan ekonomi.
Karena perang dingin ini, Amerika memiliki sikap yang paradoks mengenai Indonesia. Disatu sisi, Amerika melalui Atlantic Charter 14 Agustus 1941 menolak kolonialisme, namun pada pertemuan dengan ratu wilhelmina 6 April 1942, Presiden Rossevelt meyakinkan bahwa Amerika akan mengembalikan Indonesia kepada Belanda.
Sikap Amerika ini juga tak lepas dari keinginan presiden Rossevelt yang memasukan Hindia Belanda (Indonesia) sebagai sumber bahan mentah dan potensi pasar bagi produk barat. Akibatnya, kemerdekaan Indonesia sudah diantisipasi akan didelegitimasi Amerika yang bersama sekutu berhasil mengambil alih kekuasaan Jepang di Asia termasuk Indonesia lewat pertemuan Postdam Juli 1945 dengan menyerahkan tanggungjawab Indonesia dari Komando Pasifik Barat Daya, Jenderal Mc Arthur kepada Komando Asia Tenggara Inggris Laksamana Lord Louis Mountbatten. Kebijakan penyerahan kekuasaan tersebut kemudian dilaksanakan pada 13 Juli 1946.
Hingga akhir tahun 1946, Belanda telah berhasil merebut wilayah penting Indonesia, kini Indonesia hanya memiliki Sumatera, Jawa dan Madura. Oleh karena kebijakan tersebut, Indonesia mulai menjadi sasaran kebijakan luar negeri Amerika dari yang paling lembut hingga yang paling ektrem yaitu pada seputar kudeta 1965.

Kedua Perang terhadap Komunisme.
Sebagai bagian dari tujuan perang dingin Amerika, perang terhadap komunisme bukan hanya membuat Indonesia terjepit diantara dua blok yang sedang panas. Karena sikap ini, Amerika bukan hanya tidak mendukung kemerdekaan Indonesia, tapi juga merestusi upaya rekolonisasi belanda sejak Indonesia sedang mempersiapkan kemerdekaannya jauh-jauh hari.
Akibatnya, Indonesia kembali menjadi sasaran serangkaian kecurigaan pemerintah Amerika tentang kecenderungan pemimpin Indonesia yang pro komunis. Hingga tindakan Soekarno terhadap pemberontakan komunis di Madiun 1948, tuduhan dan ketakutan Amerika akan simpati pemerintah Indonesia terhadap komunisme semakin kuat. Pemerintah Amerika yakin, kemenangan Amerika untuk memerangi komunisme di Vietnam tak akan berarti apa-apa bila Indonesia masuk dalam jaring blok kiri. Karena keyakinan ini, pemerintah Amerika bahkan berpesan kepada seluruh duta besarnya mulai dari Jhon Alison, Hugh Cumming hingga Green, bahwa menjadikan Indonesia pecah dua bahkan berkeping-keping adalah lebih baik ketimbang mempertahankan persatuan Indonesia sementara mereka jatuh ketangan Komunis.
Kebijakan ini kemudian diwujudkan dengan memecah Indonesia dengan membentuk negara federal di perjanjian Linggarjati. Belum sempat politik pecah belah itu diwujudkan, perpecahan justeru terjadi diantara tokoh nasional dan berakibat mundurnya syahrir dari kursi perdana menteri. Tidak hanya, Di dalam pemerintahan Indonesia, penolakan Indonesia atas kesepakatan tersebut juga membuat kongsi antara Amerika dan Belanda berada dalam titik kritis. Amerika tetap menyerukan Belanda agar menghindarkan tindakan militer. Seruan itu didasarkan pada dua kekhawatiran [1] terbukanya kedok Amerika yang selama ini lebih mendukung Belanda ketimbang Indonesia [2] kekhawatiran serangan belanda akan melumpuhkan industri tambang Amerika di Sumatera.
Karena digelapkan oleh hantu komunisme, pemerintah Amerika yang lebih banyak menerima laporan dikalangan intelijen ketimbang diplomatnya bukan hanya sering tertipu oleh laporan-laporan CIA tapi juga dikelabui Belanda tentang maraknya gerakan komunis di Indonesia. Laporan dan kritik yang objektif sering datang dari pejabat keduatan AS di Batavia sejak 1920 yang menolak penggambaran Belanda bahwa setiap orang Indonesia yang menentang pemerintah kolonial adalah komunis. Pendapat ini diutarakan oleh Konsul AS di Batavia sejak Chas L. Hoover hingga Albert E. Clattenberg.
Kecurigaan tanpa dasar, dukungan kolonisasi Belanda yang paradoks dengan cita-cita founding fathers Amerika serta rencana kudeta 1958 membuat masyarakat Indonesia semakin yakin bahwa Amerika benar-benar tak bisa diharapkan. Namun fakta ini tidak diakomodasi oleh elit politik dan kelompok anti soekarno. Banyak elit politik yang anti Soekarno dan anti PKI tetap memelihara kontak dengan Amerika, akibatnya banyak skenario dan bantuan rahasia yang mengalir untuk konsolidasi program menentang Soekarno dan PKI.
Penjelasan Soekarno bahwa pelibatan PKI dalam pemerintahan adalah kenyataan politik yang mendudukan PKI sebagai partai terbesar keempat sehingga bukan hanya harus diundang dalam pemerintahan tapi juga semata-mata agar PKI juga dapat diminta pertanggungjawabannya bila bangsa ini terjerembab, tetap tidak diubris.
Sementara gangguan pemerintah Amerika terhadap Soekarno yang semakin besar dan simpati Uni Sovyet terhadap negara terjajah seperti Indonesia dan realisasi bantuan lebih dari 100 juta dolar semakin membuat Amerika semakin menajamkan beberapa skenario menumpas komunis dan semua pihak yang berada didekatnya.
Dalam kurun waktu tersebut, Amerika secara resmi dan bertahap mulai mengurangi bantuan luar negerinya tetapi secara diam-diam membantu kelompok dan sekutunya di Indonesia. Pada titik ini, saya melihat bukan materi dan posisi politik yang diharapkan oleh sekutu Amerika di Indonesia, tapi lebih kepada upaya bersama melawan Soekarno yang dituduh telah dekat dan melindungi komunis. Di Indonesia sendiri banyak tokoh yang anti komunis dan anti Soekarno yang tidak semuanya rela bekerjasama dengan CIA hanya demi menggempur dua musuh politik mereka. Namun syahwat kekuasaan Amerika untuk menumbangkan komunisme sama kuatnya dengan upayanya untuk mengambil kesempatan kisruh politik dalam negeri untuk dijadikan tragedi. saya sepakat dengan Jhon Roosa, bahwa Amerika tidak sepenuhnya terlibat dalam kudeta Soekarno. Namun saya melihat, Amerika sebagaimana telah disebutkan dalam beberapa dokumen FRUS, mengambil tindakan yang sangat hati-hati terhadap Soekarno termasuk dalam merumuskan operasi penyingkirannya.

Ketiga Eksploitasi Kekayaan Alam Indonesia
Oleh karena keberhasilan yang amat luar biasa atas jatuhnya komunisme yang disimbolkan pada PKI, Soekarno dan pengikutnya, presiden Kennedy menyebut Indonesia sebagai hadiah paling istimewa yang diberikan Asia tenggara kepada Amerika.
Pergerakan yang menarik setelah jatuhnya Soekarno bisa diamati dalam dokumen pemerintah Amerika, biografi dubes dan tokoh intelijennya termasuk catatan-catatan lain yang menunjukan adanya [1] semacam persiapan untuk merancang Soeharto sebagai presiden yang perlu diback up paling tidak dalam dua-tiga tahun kedepan, [2] mempersiapkan tim ekonomi yang membantu ketidakcakapan militer yang disimbolkan dalam pribadi Soeharto dalam mengatasi ekonomi yang ditinggalkan orde lama yang diserahkan pada Sumitro Cs yang bukan hanya terdiri dari sebagian kelompok anti Soekarno dan PKI tapi juga merupakan didikan Amerika (Barkeley), [3] Memasok hutang dan bantuan luar negeri kepada pemerintahan baru lewat program PL beras, kapas dan kerjasama lainnya.
Jatuhnya Soekarno dan ditumpasnya komunis, tidak hanya telah menjadi titik kulminasi kemenangan blok barat di kawasan sepanjang Asia hingga Australia dan Selandia Baru tapi juga telah memastikan masa depan sumber energi Amerika yang tak pernah habis di Freeport, Sumatera dan kawasan lain Indonesia yang secara de facto sangat menguntungkan Amerika hingga kini. Indikasi itu juga tampak dengan segera disahkannya UU PMA tahun 1967 yang menjadi titik tolak keberlanjutan ekspolitasi Amerika di Indonesia. Langkah strategis yang dilakukan orde baru ini merupakan langkah paling dekat Soeharto setelah sebelumnya Soeharto menggagalkan kelompok Soekarno yang bermaksud menasionalisasi perusahaan Amerika sesaat sebelum Soekarno jatuh.

Jika kita mencoba menelusuri beberapa data pemerintah Amerika mengenai apa yang terjadi dimasa gelap politik Indonesia, maka hampir dipastikan kita tidak dapatkan secara utuh. Tidak seperti laporan komisi intelijen senat tentang plot pembunuhan presiden (The Church Committee investigated CIA plots to assassinate foreign leaders), sebuah Interim Report yang diterbitkan pada tahun 1975, yang berisi rencana pembunuhan terhadap Patrice Lumumba (Congo), Fidel Castro (Cuba), Rafael Trujillo (Dominican Republic), Ngo Dinh Diem (Vietnam) dan Rene Schneider (Chile) atau dokumen CIA tentang kudeta Ahmad Mussadeq di Iran tahun 1953 juga tentang dokumen dukungan CIA terhadap kudeta Salvador Allende di Chile 1973 yang dilansir dengan dukungan FOIA Amerika. Data tentang Indonesia pada FRUS Vol. XXVI yang pada tahun 2003 dipublikasi kemasyarakat hanya sebentar dan kemudian ditarik.
Saya menduga, ‘ketidakterbukaan’ pemerintah Amerika dalam soal Indonesia erat kaitannya tidak hanya dengan ‘hubungan baik’ (yang bisa dibaca sebagai ketergantungan Indonesia terhadap Amerika) tapi juga berkait dengan kelangsungan eksploitasi sumber daya alam Indonesia oleh perusahaan raksasa Amerika mulai dari Papua (Freeport), Sulawesi, NTB (Newmont), Jawa (Chevron, Exxon), Sumatera (Exxon, Caltex) dan wilayah-wilayah lain. Dengan posisi ini sulit bagi Indonesia untuk meminta bantuan Amerika untuk mengklarifikasi nama Adam Malik seperti yang dikutip Weiner dan juga tokoh lain yang terlibat dalam operasi besar ‘menyelamatkan Indonesia’ dari Komunisme pada kurun 1958-1965 tapi menempatkannya dibawah ketiak eksploitasi kapitalisme.
Martabat dan nasib bangsa ini hanya ada ditangan kita, lagi-lagi kitalah yang memainkan peran untuk sedikit lebih cerdas mengkoreksi kesalahan masa lalu dengan membenarkan apa yang telah secara salah ditulis oleh para pemenang dalam sejarah yang penuh kebohongan. Momentum dibentuknya Komisi Kebenaran Pengungkapan Sejarah yang regulasinya dibatalkan Mahkamah Konstitusi pada periode lalu adalah sebuah kesalahan yang fatal. Namun demikian belum ada kata terlambat untuk mengungkapkan sejarah secara tulus dan jujur. Pemerintah bisa salah, apalagi seorang Weiner, tapi puaskah hanya dengan ditemukannya kesalahan tanpa terdapat upaya untuk mengakui dan memperbaiki kesalahan?
Kasus Adam Malik, saya yakin hanya sebagian kecil dari dokumen sejarah kita yang berserak dimana-mana. Oleh karena itu, jangan lagi sejarah disetting oleh para pemenang yang hanya akan memunculkan kontroversi yang tak berujung.

Bahan Bacaan

Paul F Gardner, “Shared Hopes, Separate Fears : Fifty Years of US-Indonesian Relations,”
(Colorado : Westview Press, 1997).
Joseph Burkholder Smith “Portrait of a Cold Warrior: Second Thoughts of a Top CIA Agent” (New
York: Ballantine Books, 1981)
Tim Weiner, “Legacy of Ashes: The History of CIA,” (London: Penguin Books Ltd, 2007).
Baskara T Wardaya, “Cold War Shadow:United States policy toward Indonesia,” (Yogyakarta:Galang Press, 2007)
George McT.Kahin, and Audrey R.Kahin, “Subversion as Foreign Policy: The Secret Eisenhower
and Dulles Debacle in Indonesia,” (New York: The New Press, 1995). Edward C. Keefer and David S. Patterson, “Foreign Relations, 1964-1968
Indonesia; Malaysia-Singapore; Philippines,” (Washington: United States Government Printing Office, 2001).
US Senate, “Alleged Assassination Plots Involving Foreign Leader,” Report No.94-465, 94th Congress 1st session, (Washington: United States Government Printing Office, 1975