[Ahmad Hambali Site]

Begitu mereka ada, dunia menjadi tidak sederhana. Setiap kenikmatan menjadi hambar tanpa keikutsertaan mereka. Bagiku, kenikmatan dunia hanya ada, jika mereka juga menikmatinya. Inilah dunia kami, Dunia, dimana tangis, tawa dan bahagia berjalan beriringan

Tingkah Parpol Menghadapi Pilpres: Dari Kawin-Cerai Hingga Sindrom Stochklom May 15, 2009

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 9:11 am
Demi ambisi dan kekuasaan, semua bisa terjadi. Hari-hari ini, kekuasaan bukan hanya menjadi tujuan utama para politisi dan elit. Kekuasaan bahkan telah memaksa ingatan dan kesadaran menjadi kedap dan tak berfungsi. Sesungguhnya, kekuasaan amat jauh dari nurani, itu karena kekuasaan memang menjadi tujuan politik yang hanya berlandaskan kepentingan. Dalam politik, hanya ada kepentingan abadi bukan persahabatan yang abadi. Persahabatan atau permusuhan bahkan bisa mendadak dijalin dan dilancarkan karena bertemunya titik singgung kepentingan. Dengan fenomena ini, keniscayaan politik benar-benar tidak mengharamkan munculnya persekutuan bentuk apapun hingga yang terlihat aneh seperti parpol non parpol, politisi ekonom, pengusaha dan satpam, kawan dan lawan bahkan pelaku dan korban persis stockhlom syndrome.

Bila dahulu, sang korban jatuh cinta kepada penculiknya menjadi hal yang aneh, kini menjelang pilpres 2009, prilaku stockhlom syndrome atau yang mirip-mirip dengannya jadi hal yang biasa. Fenomena politik sindrom stockhlom ini bisa jadi melengkapi tindakan politik para elit yang lain yang sudah lebih dahulu terjadi. Golkar dan JK pernah melakukan politik kawin-cerai dan lirak-lirik yang tak berlanjut dengan Demokrat. Lalu ada politik jilat ludah Hanura, Gerindra (dua partai pecahan Golkar) ke Golkar yang ditutup dengan koalisi Golkar JK dan Golkar-nya (baca:Hanura) Wiranto sebagai pasangan Capres Cawapres.

Lain halnya dengan inkonsistensi dua partai kuning, Demokrat dan SBY menerapkan politik PD (percaya diri) dalam menentukan cawapresnya. Saking PD-nya, Demokrat dianggap tidak etis dan terlalu sombong oleh tiga calon partai koalisinya. Politik gertak dari yang halus hingga zig zag menjadi langkah selanjutnya dari PKS dan partai koalisi pengusung SBY untuk menetralisir politik PD-nya Demokrat. Namun sejauh ini, PD-nya Demokrat tidak surut yang dibuktikan dengan persiapan deklarasi pasangannya, Budiono di kota kembang Bandung.

Selain itu ada politik GR (Gede Rasa) dan malu-malu dari Gerindra yang sampai saat ini tersiar kabar mulai lelah dan pasrah untuk mengakomodasi tawaran kursi wapres dari PDIP. Tidak hanya politik GR, PDIP yang serba salah dengan semua kondisi politik yang tidak menguntungkan, semakin terjepit oleh berbagai tuntutan dari soal moral, medan pertarungan hingga ambisi kekuasaan untuk mengalahkan sang incumbent.

Maju kena mundur kena yang dialami PDIP semakin komplit ketika pendatang baru Gerindra dengan kursi sekitar 4 persen lebih, Prabowo datang dengan harga mati kursi Capres sebagai syarat koalisi dengan PDIP yang notabene meraih 10 persen lebih banyak suaranya. Sementara, PDIP sudah semakin tipis momentumnya untuk menetapkan posisinya sebagai pasangan capres-cawapres yang akan maju karena antara lain disebabkan ditinggalkannya PDIP dalam ‘koalisi besar’ dan beratnya partai moncong putih ini menghadapi elektibilitas SBY dan Demokrat. Bayangan antara harga diri, fatsoen politik dan posisi jomblo kekuasaan menjadi kekhawatiran baru yang melengkapi simalakama PDIP. Dengan kondisi yang rumit tersebut, PDIP sejauh ini masih gagal memformulasi rumus andalannya untuk menetapkan pasangan capres-cawapres yang akan maju.

Persoalan diatas jelas bukan masalah kompleks yang tunggal. Rangkaian persoalan lain juga berkecamuk di tubuh partai pemenang pemilu 1999 ini untuk menjadikan Prabowo sebagai cawapresnya, datang dari kalangan internal dan pengikut partai. Hal ini disebabkan karena, terdapat sayap konstituen dan fungsionaris PDIP dari kelompok aktivis dan korban yang menolak Megawati berpasangan dengan Prabowo yang dianggap belum mempertanggungjawabkan tindakannya disejumlah kasus pelanggaran HAM seperti kasus Penculikan. Belum lagi tuntutan para korban lain yang beberapa waktu lalu menyuarakan hal yang sama kepada PDIP untuk menolak Prabowo. Jelas masalah ini menjadi beban yang amat berat bagi PDIP sehingga wajar bila Ketua Dewan Pertimbangan PDIP, Taufik Kiemas harus drop dan dirawat intensif di rumah sakit.

Mengingat beban berat yang didera PDIP dan kondisi politik yang tidak begitu banyak pilihan lagi ditambah matematika politik yang kurang menguntungkan, suara korban dan masyarakat untuk mengingatkan problem moral dan hukum dalam duet Mega-Bowo, agaknya segera dikesampingkan. Udara politik yang kian tipis bagi PDIP sepertinya akan menjadikan kans Mega bersanding dengan Prabowo begitu besar. Bila ini terjadi maka lengkaplah sudah tingkah pola yang aneh dan menyimpang yang dipraktekan parpol, politisi dan elit dalam menghadapi Pilpres. Pasangan Mega-Bowo akan menjadi pasangan yang paling aneh dari pasangan aneh di Pilpres 2009 ini karena terdapatnya fenomena politik yang mirip stochklom syndrome. Walaupun Mega bukan merupakan korban Prabowo dalam kasus 27 Juli 1996 namun tidak bisa ditutupi bahwa Prabowo bukan hanya lahir dari kalangan tentara yang diidentikan dengan kekerasan dan tindakan pelanggaran HAM namun juga menjadi tim inti Orde Baru dan pelaksana serta pelindung kebijakan represif Soeharto dalam sejumlah kasus. Dengan fenomena ini, maka akan tersanding sebuah pasangan capres-cawapres yang terdiri dari korban dan pelaku.

Persekutuan aneh dalam politik secara umum mungkin tidak menjadi persoalan. Namun sebagai bangsa yang menghendaki kemajuan, kesejahteraan dan kemakmuran yang mandiri dan bermartabat, masuknya elit dan politisi yang bermasalah dalam ruang-ruang publik dan negara merupakan kemunduran yang drastis, bahkan ini menjadi potensi lain dari keterpurukan kehidupan bernegara karena dibajaknya demokrasi, menguatnya impunitas, terkorupsinya kekuasaan, mandulnya penegakan hukum dan tindakan sejenis yang pernah dipraktekan oleh para elit lama di era pemerintahannya.

Sudah selayaknya, masyarakat mempersoalkan ini sebagai sesuatu yang amat serius. Bukan karena sekedar martabat dan tanggung jawab dimata bangsa lain, tapi demi segenap integritas tujuan kita sebagai bangsa yang merindukan kemajuan untuk seluruh rakyat.

Jakarta 15 Mei 2009

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s