[Ahmad Hambali Site]

Begitu mereka ada, dunia menjadi tidak sederhana. Setiap kenikmatan menjadi hambar tanpa keikutsertaan mereka. Bagiku, kenikmatan dunia hanya ada, jika mereka juga menikmatinya. Inilah dunia kami, Dunia, dimana tangis, tawa dan bahagia berjalan beriringan

Panik di Pemilu 2009 April 15, 2009

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 8:29 am
Tags: , ,
Jika berbagai masalah dalam pemilu 2009 ini semakin terlihat oleh publik, maka sudah bisa dipastikan bahwa secara administratif, pemilu kali ini merupakan pemilu yang paling tidak terkelola dengan baik. Walaupun pemilu hanya sekedar cacat adiministratif namun satu masalah ini saja sudah cukup mampu memicu berbagai kesalahan lain yang berujung pada gugatan dan delegitimasi hasil pemilu. Oleh karena itu jangan sampai masalah ini kemudian memberi efek domino ketidakprofesionalan KPU yang gagap menyelenggarakan pemilu. Wajar saja, atas kenyataan ini, semua kalangan bereaksi melalui berbagai mekanisme yang bermacam-macam. Mulai dari kecewa, gusar hingga panik.

Dalam ekspos media yang terekam, respon kekecewaan berbagai pihak dalam kasus ini juga memiliki ciri yang khas. Setidaknya terdapat tiga respon dari tiga kelompok masyarakat yang berbeda dalam menanggapi hasil pemilu 2009, yaitu kelompok masyarakat umumnya, kelompok pemantau pemilu dan kelompok partai peserta pemilu. Dalam kelompok pertama, masyarakat umumnya memfokuskan kegagalan KPU dalam pengelolaan DPT dan semacamnya yang memang menjadi rapor paling buruk KPU periode ini. Tidak bisa dibayangkan, KPU telah mencederai hasil kerjanya sendiri dalam menggelar pemilu yang diharapkan dapat diikuti oleh masyarakat Indonesia sebanyak-banyaknya. Selain hal tersebut, persoalan kelambatan distribusi dan kesemrawutan penyampaian surat suara juga menjadi masalah yang tidak kalah seriusnya. Dengan serangkaian persoalan ini, KPU sayangnya hanya menyatakan semua diluar jangkauan dan berharap masyarakat yang tidak terdaftar dapat berpartisipasi di pemilu pilpres.

Kepanikan lain yang juga terjadi adalah pada apa yang dirasakan oleh pengamat dan pemantau pemilu yang tentu saja lebih rinci dan detail dalam mengawasi pelaksanaan pemilu 2009 ini. Bahkan beberapa pemantau pemilu telah memberikan perkiraan kekacauan dan pelanggaran pelaksanaan pemilu mulai dari DPT, politik uang, distribusi, penyalahgunaan fasilitas negara dan lain sebagainya. Atas kondisi ini, berbagai rekomendasi yang mengarah pada perbaikan pemilu hingga tuntutan pertanggungjawaban KPU dan pemerintah disuarakan termasuk menuntut pengunduran diri para anggota KPU demi perbaikan mendasar pelaksanaan pemilu presiden 2009 mendatang.

Kepanikan yang lebih mendekati arti yang sebenarnya datang dari kelompok partai peserta pemilu dimana kebetulan digagas oleh partai yang bisa jadi tidak menerima kekalahannya. Upaya mengakselarasi kepanikan ini kebetulan lagi diperkuat oleh semrawutnya penyelenggaraan pemilu sehingga begitu banyak alasan dan tuduhan yang dapat dilontarkan tidak hanya terhadap penyelenggara pemilu tapi juga terhadap pemerintah yang untuk sementara ini menjadi partai dengan perolehan suara yang melampaui partai lain.

Dalam panggung komunikasi masa hari-hari ini, semua momentum diatas menjadi argumen berlanjut dari delegitimasi politisi yang satu terhadap politisi yang lain. Beberapa politisi yang dalam kampanyenya selama ini selalu menyerang pemerintah juga menemukan momentum untuk menggabungkan berbagai perolehan suara yang kurang menyenangkan bagi partai mereka dengan masalah amburadulnya penyelenggaraan pemilu. Belum lagi, politisi dan partai yang secara sumber daya dan logistik telah mempertaruhkan habis-habisan untuk menarik sebesar-besarnya suara namun menuai hasi yang tidak seperti diharapkan seperti yang dilakukan partai Gerindra.

Oleh karena itu, respon paniknya kelompok ketiga ini tidak saja mempersoalkan pada masalah kecurangan dan kekacauan penyelenggaraan pemilu, tapi juga aksi dan manuver menggalang kekuatan untuk memperoleh dukungan guna mewujudkan diri atau partainya sesuai dengan konsep iklan yang telah dipublikasikan. Bahkan demi tujuan itu semua, subtansi politik yang menyatakan tidak ada kawan atau lawan abadi benar-benar diterapkan setidaknya oleh Prabowo dan Wiranto guna mencari jalan kemenangan lain menghadapi pemerintah dan SBY.

Kepanikan memang harus ditunjukan, paling tidak itu menyiratkan sebagai kepedulian. Tapi kepanikan jangan sampai berlebihan, karena bisa jadi itu menjadi wujud asli dari ambisi yang tak tertahankan. Konon, dulu para jenderal berperang bak gajah yang bergukat diatas semut-semut kecil seperti tragedi mei 1998 yang menewaskan tidak kurang dari 1500 warga masyarakat. Kini era demokrasi dengan segala kekurangannya mengharuskan dan memaksa para jenderal atau siapapun tunduk pada mekanisme menempuh perang dan berstrategi damai meraih sebesar-besarnya dukungan rakyat dalam pemilu dengan konsep, janji dan bukti.

Hanya yang terbaik yang akan dipilih masyarakat cerdas. Juga sepertinya hanya yang paling cerdas dan santun yang mendapat simpati rakyat. Keduan elemen ini bukan sekedar kata tapi pernah menjadi nyata dulu ketika Megawati dijepit, ditindas dan dinistakan orde baru dari segala arah malah menjadikan mega dan PDIP sebagai partai pemenang pemilu 1999. Namun simpati harus diolah menjadi kinerja dan bukti yang tak sepenuhnya dilihat rakyat dijalankan secara baik oleh Mega dan PDIP. Akibatnya, Golkar kembali menyalip posisi PDIP di pemilu 2004.

Kebetulan atau tidak, Mega kembali banyak ‘menyerang’ pemerintah dan SBY secara cukup frontal sehingga fenomena yang pernah terjadi pada Mega sepertinya terjadi juga pada SBY ditambah klaim-klaim keberhasilan pemerintah SBY dan program populis menjelang pemilu yang langsung membawa partai demokrat untuk sementara unggul dalam perhitungan suara.

Bagi pemerintah, paniknya seluruh kelompok masyarakat melihat pelaksanaan pemilu 2009 harus segera dibenahi dan dipertanggungjawabkan. Walaupun secara teoritis KPU melakukan penyelenggaraan pemilu secara indipenden, namun pemerintah seyogyanya meminta pertanggungjawaban dan bila perlu membenahi KPU secara mendasar. Karena tanpa ini, momentum kemenangan Demokrat yang sudah didepan mata berpotensi sirna dengan sosialisasi delegitimasi kalangan oposisi pemerintah. Tidak hanya itu, yang amat menderita dari rangkaian kepanikan dan kebodohan pelaksanaan pemilu ini adalah masyarakat yang secara cerdas dan cermat berupaya berpartisipasi dalam menentukan nasib bangsa ini untuk lima tahun mendatang. Masyarakat tidak perlu lagi menunggu aksi dan manuver kepanikan kelompok yang kalah dengan kekerasan dan teror. Oleh karena itu, pemerintah segeralah bertindak mengatasi ini.

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s