[Ahmad Hambali Site]

Begitu mereka ada, dunia menjadi tidak sederhana. Setiap kenikmatan menjadi hambar tanpa keikutsertaan mereka. Bagiku, kenikmatan dunia hanya ada, jika mereka juga menikmatinya. Inilah dunia kami, Dunia, dimana tangis, tawa dan bahagia berjalan beriringan

Teror Atas Nama Kebebasan Beragama November 24, 2008

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 4:57 am
Tags: ,

Rabu 19 November 2008, saya mengunjungi sebuah situs yang memuat dua komik sangat provokatif yang oleh pembuatnya salah satu tokoh dalam komik tersebut disimbolkan sebagai Rasulullah SAW. Tidak hanya itu, blog situs berbahasa Indonesia itu juga memuat berbagai tulisan yang -lagi-lagi secara provokatif- berusaha menerjemahkan hadis dan ayat menurut pemahamannya. Celakanya, semua penafsiran dan posting yang dilakukan didasarkan oleh kebencian terhadap Islam, jadilah kemudian kita tidak mendapat nilai apapun terlebih nilai kritis dalam blog tersebut kecuali caci maki orang yang sedang marah karena banyak hal seperti frustrasi dan prilaku sejenisnya yang diakibatkan karena ketidakmampuan membedakan mana subtansi ajaran agama dan mana yang berasal dari tindakan manusia.
Tindakan dan sikap seperti ini saya kira juga masih banyak diidap oleh sebagian masyarakat Indonesia dimana agama kemudian dimunculkan oleh sebagian kecil pemeluknya dalam wajah yang tidak ramah. Tidak hanya Islam, dalam skala yang lebih kecil dan tidak terekspos, di Indonesia khususnya, fundamentalisme agama dalam makna yang negatif bisa jadi juga dilakukan oleh pengikut agama lain.
Namun begitu saya yakin, persoalan kehidupan beragama bukan merupakan akar tunggal dari kemunculan orang atau kelompok yang sampai hati mengobarkan provokasi yang meledak-ledak seperti itu. Sikap apatis, apriporis dan potensi kekecewaan lain terhadap kehidupan masyarakat, negara bahkan pribadinya menjadi salah satu faktor pemicu tumbuhnya kebencian-kebencian tersebut.
Bukan menjadi hal yang tidak mungkin, bila penyakit-penyakit tersebut amat tumbuh sumbur di negeri ini. Korupsi sistemik, buruknya penegakan hukum, merebaknya premanisme birokrasi ditengah pemberantasan preman telah sekian lama menutup akses tidak saja bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat tapi juga terhadap efek psikologis yang positif bagi warga untuk dijadikan sebagai tauladan dan konsumsi spiritual yang bermanfaat bagi kehidupan masyarakat kedepan.
Walau tidak ada jaminan bahwa keteraturan akan tercipta secara sempurna sekalipun kehidupan negara berlangsung amat baik, namun tidak bisa dipungkiri, kekecewaan kecil yang tumbuh membesar sering diawali oleh kegagalan dan pengabaian negara dalam menjalankan kewajibannya untuk melayani dan memberikan yang terbaik bagi masyarakatnya.
Dalam konteks tersebut, kita tidak pernah bisa mencegah, Amrozi CS untuk memilih ‘jihad’ yang diinginkannya disebabkan berbagai alasan ideologis yang terhubung dengan konsepsi negara gagal (state failed), tapi kita tak boleh membiarkan penafsiran jihad mereka mengabsahkan model penumpahan darah manusia yang tak berdosa. Dalam kasus ini, bukan hanya evaluasi terhadap target yang dituju yang menjadi penting tapi evaluasi mendalam terhadap penafsiran makna jihad dalam konteks yang lebih subtantif merupakan sebuah syarat mutlak. Karena ketiadaan evaluasi mendasar inilah, sebagai besar publik lebih mengkategorikan tindakan Amrozi CS sebagai teror bukan jihad.
Kategorisasi teror tersebut sesungguhnya lebih diorientasikan pada akibat yang ditimbulkan sebagai respon negatif yang terus menerus melingkar dalam labirin. Begitu juga, dengan komik provokatif dalam situs tersebut. Parameter yang dilakukan sebagai teror agaknya juga sedang diemban dalam upaya memprovokasi umat manusia didunia maya.
Saya melihat teror yang sedang dijalankan secara sadar atau tidak sedang menciptakan black propaganda tidak hanya terhadap Islam tapi juga terhadap kelompok yang bernaung dalam kebebasan beragama. Islam dalam hal ini adalah menjadi pihak yang dirugikan, tetapi kelompok-kelompok yang sedang mengkampanyekan subtansi keberagamaan yang penuh kedamaian juga sedang diperangi dengan munculnya situs provokatif ini. Situs yang terinspirasi dari situs Ali Sina ini (yang pada hari ini cabang Indonesianya sudah ditutup dan minta maaf, http://www.indonesia.faithfreedom.org/forum/viewforum.php?f=81&sid=48beffc7c441fe11d37e505a39df9a82) sama sekali tidak mewakili kelompok yang sedang memperjuangkan kelompok agama untuk perdamaian, juga tidak mewakili kelompok atau orang yang sedang mencari tuhannya dengan jalan yang baik. Seperti pendirinya Ali Sina yang asli Iran dan saat ini bermukim di Kanada, situs ini lebih didominasi oleh kerangka kebencian dengan logika penafsiran yang dipaksa akademik. Oleh karena itu, untuk konteks Indonesia dan negeri seperti Indonesia, situs ini merupakan teror yang bisa menciptakan banyak kerusakan yang tidak sebentar.
Situs ini mungkin saja ingin memanfaatkan masa tenang radikalisme Islam dipermukaan yang baru colling down beberapa waktu lalu untuk memicu pertikaian yang lebih besar lagi. Oleh karena itu potensi delik penghinaan dan penodaan terhadap ajaran agama dalam hal ini Islam memang sengaja diterjang, guna menciptakan adu domba dan cyclus of violence yang berskala lebih luas.
Sebagai bagian dari teror, situs ini amat berbahaya. Tidak ada hak apapun bagi sipengelola untuk menafsirkan suatu ajaran dengan bahasa dan propaganda provokatif.

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s