[Ahmad Hambali Site]

Begitu mereka ada, dunia menjadi tidak sederhana. Setiap kenikmatan menjadi hambar tanpa keikutsertaan mereka. Bagiku, kenikmatan dunia hanya ada, jika mereka juga menikmatinya. Inilah dunia kami, Dunia, dimana tangis, tawa dan bahagia berjalan beriringan

Rekonsiliasi November 14, 2008

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 8:23 am
Tags:

Selalu saja berujung pada kata rekonsiliasi, setiap isu atau gagasan yang diawali oleh perlunya memaafkan bagi seseorang yang dimata publik -terutama orang yang paham dan terlibat sebagai korban- sulit untuk dimaafkan. Inilah babak lanjutan dari politik zig zagnya PKS tentang Soeharto yang berujung pada rekonsiliasi.
Kalau kita jeli meriset paket isu ini (kejahatan masa lalu, soeharto hingga rekonsiliasi), sesungguhnya PKS bukanlah pemain baru dalam menggelontorkan wacana ‘basi’ ini. Paling tidak, sejak awal tahun 2000, sejumlah tokoh dan elit politik silih berganti memainkan isu sporadik tentang rekonsiliasi. Mulai dari partai warisan Orde Baru, Golkar, Hamzah Haz yang kala itu menjabat wakil presiden hingga PKS.
Saya sungguh tak bermaksud mempertanyakan tujuan dari tindakan tersebut. Yang terpenting bagi saya adalah bagaimana para tokoh atau siapapun, setiap hari, jika mereka bersuara, bisa memberikan teladan-teladan yang produktif bagi masyarakat. Itu artinya, memainkan pola kampanye pemaafan hingga rekonsiliasi bagi kejahatan kekuasaan masa lalu tanpa tahu bagaimana mekanisme dan konsep pertanggungjawaban yang harus dijalankan bukan hanya tidak mendidik publik tapi juga memberikan teladan yang buruk bagi berbagai penyelesaian persoalan bangsa Indonesia ke depan. seserius itukah? bagi saya ya.
Rupanya penting untuk mengingatkan kembali tentang keberhasilan negara-negara yang pernah dibekap kekerasan masa lalu untuk bangkit karena menggelar sebuah forum nasional untuk mengklarifikasi peristiwa kelam masa lalu sebagai prasayarat rekonsiliasi. Dengan kekurangan dan kelebihan, Afrika Selatan bisa dianggap mewakili sebagai salah satu negara yang paling maju di benua hitam tersebut paska kekerasan apartheid rezim de clerk.
Kunci dari keberhasilan Afrika Selatan tersebut antara lain tercermin dari slogan Nelson Mandela yang terkenal yang diucapkan satu hari setelah terbentuknya Komisi Pengungkapan Kebenaran Sejarah Afrika Selatan (South Africa’s Truth Commission) yang diketuai uskup Desmon Tutu “To forgive and forget, we should know what actually happened” (Untuk memaafkan dan melupakan, kita harus tahu apa yang sesungguhnya terjadi). Dengan kekurangan dan kelebihan proses komisi tersebut, jadilah kemudian Afrika Selatan hari ini yang menjadi negeri modern Afrika dan tuan rumah World Cup mendatang.
Saya melihat, Afrika Selatan tidak saja berhasil mengatasi problem krusial masa lalunya. Tapi lebih dari itu, negeri diujung selatan Afrika itu juga mampu memutus kekebalan hukum bagi pelaku yang berdampak langsung bagi pencegahan terulangnya kejahatan yang sama atau lebih berat lagi, menghentikan kekerasan apartheid diseluruh pelosok negeri dan memulihkan trauma korban yang salah satunya dijalankan melalui rekonsiliasi.
Bila konsep terpadu ini telah dilakukan Afrika Selatan, maka konsep yang seperti apa yang dimaksud oleh Golkar, Hamzah Haz dan PKS tentang rekonsiliasi. Saya sering menganalisis bahwa rekonsiliasi yang digembar-gemborkan selama ini oleh beberapa elit politik, dipastikan sebagai rekonsiliasi sporadik yang tak memiliki desain dan digunakan untuk (lagi-lagi) meraup keuntungan politik sempit.
Perlu diingat, rekonsiliasi bukan merupakan tindakan tunggal, rekonsilasi adalah tindakan terkait yang memiliki prasarat. Sederhananya, bagaimana seseorang dapat memaafkan suatu perbuatan yang tidak pernah diakui oleh orang lain sebagai sebuah kesalahan. Dalam konteks itu, apakah pernah ada pihak dinegeri yang mengaku dan bertanggungjawab atas kejahatan masa lalu. Jika demikian, bagaimana korban dan masyarakat lain bisa memberi maaf? Lalu kepada siapa, pemaafan itu ditujukan? Jika jawaban-jawaban ini tidak pernah ada jelas tidak akan pernah terjadi rekonsiliasi.
Menurut saya, dalam konteks hari ini untuk kasus kejahatan kekuasaan, rekonsiliasi bukan hanya semu dan tak penting menjadi fokus. Prioritas utama agenda yang berhubungan dengan persoalan ini adalah penegakan hukum dan pertanggungjawaban yang jelas dan tegas tanpa pemberian kekebalan hukum langsung atau tidak langsung bagi pelakunya. Hukum selama ini terlalu berkompromi dengan para penjahat, akibatnya bukan hanya keadilan yang rusak, tapi kejahatan yang sama dengan kualitas dan modus yang bervariasi terus muncul hingga saat ini. Warisan kekerasan masa lalu dalam kasus penculikan, pembunuhan, penyiksaan, kekerasan bahkan semakin menjadi dimasa kini. Negara bukan hanya gagal menghentikannya, tapi juga abai untuk menyelesaikan akar persoalannya. Buruknya, para elit bukannya memberikan solusi yang benar tapi memanfaatkan berbagai isu yang tak selesai ini untuk kepentingan politik sesaat.
Dalam situasi ini, mungkin bisa kita bayangkan, apakah seluruh persoalan bangsa yang tak pernah selesai dan bahkan memburuk ini juga karena kita tidak pernah memulai untuk menyelesaikan ‘borok’ masa lalu dengan sungguh-sungguh. Bisa jadi dengan usaha keras dan rumusan yang terkonsep, pelajaran dalam menyelesaikan masa lalu tersebut dapat dijadikan model dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa kini. Semoga kita bisa mengambil hikmah dari kekeliruan ini.

Ahmad Hambali

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s