[Ahmad Hambali Site]

Begitu mereka ada, dunia menjadi tidak sederhana. Setiap kenikmatan menjadi hambar tanpa keikutsertaan mereka. Bagiku, kenikmatan dunia hanya ada, jika mereka juga menikmatinya. Inilah dunia kami, Dunia, dimana tangis, tawa dan bahagia berjalan beriringan

Soeharto, pahlawan? November 11, 2008

Filed under: Catatan — ahmadineia @ 8:41 am

Harusnya jangan jadi aneh, bila ada pihak, orang ataupun kelompok yang memainkan isu apapun untuk kepentingan sempit dan jangka pendek dalam kondisi Indonesia hari-hari ini. Begitu juga dengan trial and errornya PKS dalam merangkaikan Soeharto dengan sederet pahlawan, tokoh bahkan guru bangsa dalam iklan-iklan kampanyenya.
Lalu apa yang aneh dari itu semua! Saya tidak pernah melihat hal itu aneh, bahkan oleh kelompok politik yang konon ingin bersih seperti kumpulan orang di PKS. Tidak ada pergerakan yang janggal dari langkah politik PKS dengan iklan tersebut kecuali semakin membusukan harapan orang tentang sebuah bangsa yang dengan tulus melayani rakyatnya.
Bagi partai seperti PKS yang begitu banyak diisi oleh ‘darah muda’, gagasan gila menyandingkan Soeharto dengan para tokoh yang harum namanya, bisa jadi, bukan hanya miskin perdebatan internal didalamnya, tetapi juga menjadi wujud dari kuatnya proses oligarki elit yang sesungguhnya dalam partai yang dihuni mayoritas muslim itu. Pada titik ini, kita mungkin akan semakin yakin bahwa tidak ada satupun partai di Indonesia yang bersih dari kooptasi elit dimana pusat-pusat keputusan amat didominasi oleh elit partai.
Saya tak berkepentingan dengan pernyataan soal merugikan atau menguntungkan PKS atau partai lain. Bagi saya, ide konyol PKS ini juga menegaskan bahwa sejak lama negeri ini diaduk-aduk oleh tindak tanduk politik yang cenderung sporadis dari berbagai kekuatan politik yang ada. Faktanya, begitu mudah orang atau kelompok membuka dan melempar gagasan buruk dan kontraproduktif tanpa memperhatikan kepentingan moral dan sebuah pertanggungjawaban yang seharusnya dibangun.
Gagasan PKS, jelas saya tak mengerti maksud sesungguhnya. Tapi saya paham sekali, ribuan bahkan jutaan masyarakat korban, yang mengetahui persis siapa sesungguhnya Soeharto dan bagaimana mereka diperlakukan atas nama pembangunan dan kekuasaan, amat tersinggung dan kecewa dengan ‘ide brilian’ entitas politik yang mengklaim mewakili orang banyak itu.
Bahkan bagi para sekutu dekatnya yang menjadi pembantu, pelaksana dan penggembira diperistiwa-peristiwa krusial seperti pembantaian pengikut komunis, soekarnois, Islam hingga masyarakat dan aktivis yang konsisten mengkritisi orde baru, yang pasti tahu dalam hati nurani mereka, Soeharto telah meninggalkan begitu banyak kekejian yang sulit hilang walau terus dicoba dilupakan.
Jika dikatakan semua berawal dari miskinnya pengalaman sejarah bagi pihak yang melihat Soeharto secara sepenggal-sepenggal sehingga tak terlihat sifat aslinya, agaknya terlalu naif. Era keterbukaan hari ini telah semakin sulit untuk mengubur bau busuk orde baru yang dikendalikan Soeharto di hampir semua lini kehidupan terutama korupsi dan kekerasan negara.
Pun juga dengan tidak pernah terkonsepnya penanganan sejarah kelam Indonesia oleh pemerintah, sehingga memicu berlarut-larutnya masalah ini. Tidak itu saja, konsep yang tak pernah jelas itu juga membuat politisi-politisi muda menganggap Indonesia telah melewati fase kemanusiaaannya atas gelapnya rezim masa lalu. Hingga tak pernah singgah dibenak para kelas menengah itu, bagaimana mengambil pelajaran dan hikmah dari peristiwa-peristiwa masa lalu.
Kini, setelah iklan kontroversi tersebut, sudah dapat ditebak, kelompok pendukung Soeharto yang memang membutuhkan aliansi baru mencoba membonceng isu ini untuk memainkan keuntungan politik sempit dibalik wacana mempahlawankan tokoh utama orde baru ini.
Dalam kehidupan politik yang sehat, status pahlawan sesungguhnya punya proses dan sejarah verifikasi yang panjang. Seorang mantan presiden, kalaupun ia tidak memiliki cela, paling banter
didudukan sebagai senator seumur hidup seperti Perancis, Zambia dan beberapa negara lain yang dijajah Perancis. Itu jika kehidupan politiknya sehat tidak sakit. George Washington, Thoman Jefferson di Amerika membutuhkan parameter lain selain hanya menjadi presiden untuk dikenang terus oleh rakyat Amerika. Karena pahlawan adalah bagian dari pernyataan penghormatan yang tinggi dari rakyat.
Lalu dari mana dasar kajiannya bila Soeharto ingin diletakan sebagai pahlawan. Dari sudut matematika sederhana saja, sudah bisa ditebak bahwa Soeharto sama dengan nol kalo tidak disebut minus. Hal tersebut karena banyak orang beranggapan bahwa kontribusi positif presiden terlama Indonesia ini sebanding dengan kerusakan yang ditimbulkan (mungkin bahasa matematikanya seperti ini 1-1=0).
Belum lagi dari pertimbangan-pertimbangan lain yang juga memerlukan verifikasi yang akurat dan tidak mudah. Walaupun begitu, jikapun elit dan pemerintah akhirnya menjadikan Soeharto sebagai pahlawan, saya, lagi-lagi, juga tidak kaget. Selain keyakinan kuat bahwa gelar itu turun secara sporadik, tanpa konsep yang jelas dan bermaksud untuk menarik keuntungan politik juga karena dengan gelar pahlawannya itu, bangsa ini akan semakin diarahkan sebagai bangsa yang tak punya makna yang tercermin dari kebijakan pemerintahnya. Apalah artinya gelar tanpa pengakuan yang tulus, dalam dan luas. Apa artinya pengakuan, jika itu kosong, sepihak dan tak berpijak.
Saya memang melihat, setiap hari politik Indonesia, bukan hanya terus membusuk tapi juga melupakan sisi yang terdalam dari kehidupan manusia. Korupsi yang timbul tenggelam, kekerasan yang tiada kata akhir dan kekalahan negara terhadap vandalisme sebagian kecil masyarakat merupakan cermin dari pengambilan keputusan sebagian besar para politisi dipartai-partai, pemerintahan dan lembaga-lembaga negara. Tidak peduli apa topeng yang dikenakan, apakah agama, nasionalisme, ideologi atau apapun.
Dengan catatan ini, saya kira, PKS bukan hanya harus menarik iklannya, tapi juga harus menyatakan penyesalan dan permintaan maafnya kepada para korban. Atau jika tidak, PKS dan kelompok-kelompok lain yang memiliki ide serupa juga ingin melihat gelar-gelar terhormat seperti pahlawan, guru bangsa, tokoh di Indonesia tidak lebih mulia dan prestis dari sebuah hadiah nobel barangkali.
Ahmad Hambali

Advertisements
 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s